Tangisan
Maryati
Pada malam hari disuatu
emperan toko,tertunduklah seorang wanita yang kebasahan melindungi sebuah
buntalan. Datang seorang hansip menghampirinya dan bertanya
Hansip : hay sedang apa sampean ditempet seperti ??
Maryati : sssaaaa..sayaaa (dengan terisak-isak dan
terbata-bata)
Hansip : iya!sampean !
Maryati : saya tidak tahu kemana arah saya berjalan
tuan(dengan menangis dan mempererat pelukannya kepada buntalan yang ia bawa)
Hansip : lhoo, sampean ini bagaimana ? memangnya
sampean nyari siaapa ??
Maryati : saya tidak tahu, saya hanya ingin disini
Hansip : nahloh, sampean ini ngawur disini bukan
tempat untuk menginap!
Maryati : (tak menjawab dan pergi begitu saja)
Hansip : mbaaaaaaaak (teriak memanggil dan berusaha
mengejar)
Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
tergesa-gesa dan seperti orang memburu buruannya.
Hansip : tunggu,tunggu....tunggu ada apa mas ??
Mas. Karto : apa urusan anda ! (membentak)
Hansip : saya keamanan disini, apa bila saya melihat
hal yang saya anggap mencurigakan saya berhak memeriksa anda dan mencoba
mencari tau hal apa yang sebenarnya terjadi. Jadi maaf, sebelumnya.
Mas. Karto : persetaaaaaaan !
Hansip : apa susahnya untuk anda melapor kepada
saya?siapa tau saya bisa membantu anda. Sabar mas sabar ! (berusaha menetralisir
keadaan)
Mas. Karto : saya tidak ada urusan dengan anda !
Hansip : lholholhoo yang sopan mas, saya tanya anda
dengan baik dan santun
Mas. Karto : anda ini membuat saya emosi !!!
(mengayunkan pukulannya kepada hansip sampai hansip jatuh pingsan)
Tiba dirumah maknya Maryati.
Ketika amak dan abahnya Maryati sedang asyik
menyantap makan malamnya datanglah
Mas. Karto dengan penuh emosi diraut wajahnya.
Mas. Karto : emaak... dimana Maryati ???(dengan nada
emosi tinggi)
Emak : assdahfirulloh nak Karto apa maksutnyaa ??
(kebingungan)
Abah : iyaa kenapa Karto ?????
Mas. Karto : mak, Maryati pergi dari rumah membawa
Atikah!
Emak : kenapa Maryati pergi ?? ada masalah apa ???
Mas. Karto : Atikah sedang demamnya tinggi mak,
sewaktu Maryati meminta saya mengantrkan Atikah ke dukun Maryati melihat saya
dengan perempuan lain mak (menangis) saya menyesal mak, Atikah suhu badannya
panas sekali sudah 3 hari ini.
Abah : masya Allah to, kamu itu bapakknya ! kenapa
kamu bisa sekeji itu ! abah malu punya menantu sperti kamu to !
Amak : duuhhh gusti , paringi Atikah kasehatan
(menangis dan hampir pingsan)
Mas. Karto : abaah ... amaak maafkan Karto
(terisak-isak)
Abah : ayoo kita cari dimana Maryati sekarang !
Mas. Karto : ayo bah segeraa....
Beberapa saat kemudian tiba di sebuah jalan yang
sunyi dan sepi terdengar suara tangisan dan rintihan.
Mas. Karto : abaaah , apakah abah mendengarnya ??
Abah : iya nak Karto, ayop kita cari sumber suara
itu.
Beberapa langkah kemudian terkejutlah abah dan Karto
melihat Maryati yang sedang menangisi buntelan yang dari tadi digendongnya.
Mas. Karto : Maaaryaaaaatii..... (segera menghampiri
istrinya)
Maryati : untuk apa akang datang dan mencari saya ?
bukankah akang sudah tidakl peduli lagi dengan saya dan Atikah (menangis)
Mas. Karto : maafkan saya maryati, ayoo kita bawa
Atikah kerumah dukun
Maryati : semua terlambat kang !! lihat Atikah sudah
membiru tak lagi bisa menangis. Apakah akang mengerti derita kami selama ini
Abah : innalilahi’wainailaihiro’jiun , sabaar naak
Mas. Karto : maaf kan akang Maryati......










0 komentar:
Posting Komentar